Minggu, 03 Juli 2011

Potret Kerja Otak dari Sidik Jari Anak Ibu

Tantangan menjadi orangtua zaman sekarang luar biasa. Terutama, kalau sudah menyangkut masalah anak. Berapa banyak orangtua yang cemas dengan masa depan anaknya di era persaingan global. "Kelak, mampu nggak, ya, dia bersaing? tok, anakku kurang, ya, di bidang akademik?" Hidup di bawah tekanan mengakibatkan anak menjadi korban salah asuh orangtuanya.
Menurut pakar nutrisi, dr Tria Rosemiarti, ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Yakni, genetik, nutrisi dan stimulasi. Genetik hanya mempengaruhi 48% kecerdasan anak, sisanya lebih banyak dipengaruhi nutrisi dan stimulasi. "Jadi, bagaimana anak mau cerdas sesuai harapan orangtua, kalau kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi dan stimulasi yang orangtua berikan kepada mereka tidak tepat?" katanya seraya bertanya.
Memotret Kerja Otak
Stimulasi yang tepat, penting untuk anak. menurut psikolog anak dan Psyschobiometric, Efnie Indriani, M.Psi, stimulasi menjadi mdikator kecerdasan seseorang.Bila anak distimulasi, terjadi pembentukan sinaps yang menghubungkan satu syaraf dengan syaraf lainnya. Makin banyak rangsangan yang diberikan, makin banyak syaraf tersambung. "Kalau difoto, otaknya padat dan tampak ruwet," katanya.Dr Rita Levi Montal cini dan Dr Stanley Cohen melakukan penelitian tentang korelasi antara hormon yang menentukan pertumbuhan otak (nerve growth factor) dengan hormon yang menentukan gerakan sidik jari (epidermal growth factor) pada 1986.Penemuan ini menunjukkan adanya korelasi antara pola garis-garis epidermal kulit dengan hormon sistem pertumbuhan syaraf.
Melalui sidik jari, cara kerja otak kita akan tergambar. Dengan begitu, kita bisa memperoleh gambaran tentang banyak hal. Mulai dari karakter, bakat, daya tahan terhadap stres, metode belajar yang cocok, sampai cara kita menangkap informasi. "Jadi, kita ticlak cukup hanya melakukan observasi (mengamati) perilaku," ujar Efnie. Akurasi analisis sidik jari pun terbilang akurat, mencapai 89,71%.Menurut Efnie, sebaiknya tes dilakukan sedini mungkin, bahkan bila memungkinkan pada bayi berusia 4 bulan. Meski begitu, tak ada kata terlambat. Di usia dewasa, kita tetap bisa melakukan analisis. Bentuk sidik jari sejak kita lahir sampai dewasa tetap sama sehingga ketika dianalisis, hasilnya pun konsisten. Seperti pengakuan psikolog Irene Mongkar, "Saya melakukan tiga kali analisis sidik jari di tempat yang berbeda, hasilnya sama."
Bedanya, analisis sidik jari pada usia dewasa bisa jadi membuat Anda berujar, "Ini bukan seperti saya selama ini!" Efnie mengatakan, penyebabnya karena orang dewasa sudah mengalami perubahan perilaku akibat pengaruh lingkungan. "Hasil sidik jari, itulah Anda yang sebenarnya. Dengan mengetahui hasil analisis, Anda bisa menggali lagi diri Anda yang selama ini hilang karena pengaruh lingkungan," paparnya.
Kenali Buah Hati
Pernyataan "Karena saya ibunya, saya yang paling tahu tentang anak saya," tidak sepenuhnya benar. Untuk menyempurnakan, Efnie mengajak ibu bersama anaknya melakukan analisis sidik jari berdasarkan fakta ilmiah.Kenapa ibu? Kita tak bisa memungkiri, intensitas kebersamaan ibu dengan buah hatinya, secara kualitas dan kuantitas, sudah berlangsung sejak anak dalam kandungan. "Tentu, tanpa mengenyampingkan peran ayah," tambah Efnie.
Untuk langkah pertama, yuk, kita kenali dulu si buah hati dalam hal tipe gaya belajar, soft skill, gaya eksplorasi, dan bakat. Gaya belajar terbagi tiga; visual, auditor! dan kinestetik. Anak visual akan mudah mempelajari sesuatu lewat indera penglihatan (gambar) untuk menangkap informasi. Sedangkan auditori mengandalkan indera penderigaran. Jadi, jangan heran kalau ada anak yang tidak suka mencatat tapi saat mendengarkan, dia dapat menangkap informasi lebih akurat. Terakhir, kinestetik, anak mempelajari sesuatu secara learning by doing, makanya ia dikenal aktif.
Kita pun dapat mengetahui soft skill si kecil, apakah ia tergolong anak percaya diri, kepekaannya tinggi, inisiatif, atau kreatif. Melalui analisis ini, kita jadi tahu tipe eksplorasi anak, yang terdiri dari realistis, imajinatif, observasi.Jika ia termasuk realistis, berikan stimulasi benda nyata. Misal, main mobil-mobilan, berikan anak mobil mainan yang nyata. Apabila imajinatif, maka ia menyukai permainan analogi. Contoh, memanfaatkan kardus untuk bermain mobil-mobilan. Anak tipe observasi akan mudah mempelajari sesuatu dengan mengamati terlebih dulu.Analisis ini juga dapat digunakan untuk mengenali bakat anak, apakah tergolong tipe si pengembang atau si pernecah masalah.
Apa Tipe Pota Asuh Anda?
Jika kepribadian anak sudah terungkap, sekarang giliran Anda. Melalui analisis sidik jari, para ibu bisa mengetahui pola asuhnya. Menurut Efnie, ada empat pola asuh orangtua. Di antaranya, tipe naturing (mengikuti alur perkembangan buah hati apa adanya/alamiah), nurturing (berupaya untuk menerapkan cara-cara pola asuh tertentu/ membimbing), responsive (berpikir dengan cepat sehingga mudah memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan anaknya), analytical (banyak pertimbangan dalam menentukan sikap ketika menghadapi anak).
Lalu, manakah yang terbaik dari keempat itu? "Semuanya baik," kata Efnie. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya pola asuh dengan kepribadian anak. Kita pun dapat menentukan cara pengasuhan yang tepat sesuai kebutuhan mereka. Alhasil, kita dapat memberikan stimulasi tepat sesuai bakat putra-putri kita.Contoh, ibu yang cenderung nurturing, la ingin menerapkan disiplin mengelola waktu, sehingga ia pun membuat jadwal kapan anak harus mandi, tidur, belajar. Padahal, si ibu berhadapan dengan buah hati yang bertipe fleksibel. Hal ini kadangjadi pemicu kemarahannya. Ibu pun mengeluh, Kenapa, sih, kamu enggak bias ngikutin aturan Mama? Kenapa Mama minta kamu mandi, kok, kamu malah main?" Jika berlangsung terus menerus, anak tentu jadi tertekan.
Lain lagi ketika orangtua cenderung responsif. Dia sangat mengikuti tren. "Ada les matematika metode terbaru, anaknya diikutsertakan. Padahal, bisa jadi anaknya lernah di matematika, akhirnya stres," paparnya.Nan, ketika orangtua Sudan mengetahui si anak berkepribadian fleksibel yang tak tahan dengan aturan serba ketat, maka segera menyesuaikan diri dengan menurunkan standar aturan. Bila Anda sudah tahu bakat anak bukan di bidang matematik. Anda pun dapat menstimulasi buah hati sesuai bakatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar